Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) di SMA Future Gate
Berita, SMA FG – Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) telah dilaksanakan pada hari Senin-Kamis tanggal 3-6 November 2025. Pelaksanaan TKA di SMA Future Gate berjalan dengan lancar.
TKA adalah asesmen standar nasional yang dirancang untuk mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Mata pelajaran yang diujikan secara umum terbagi menjadi dua, yakni: Mata Pelajaran Wajib (Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris) dan Mata Pelajaran Pilihan (Fisika, Kimia, Biologi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Antropologi, PPKn) serta mata pelajaran lain di rumpun bahasa dan kejuruan. Mata Pelajaran Pilihan dipilih sendiri oleh peserta didik dan disesuaikan dengan mata pelajaran pendukung jurusan yang akan mereka ambil di jenjang pekuliahan nanti.
Tujuan TKA adalah menjawab tantangan penilaian yang beragam antar sekolah dengan menyediakan bentuk penguatan capaian akademik murid yang objektif dan terstandar. Kemudian TKA menjadi salah satu bahan pertimbangan seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan seleksi lainnya, serta menyetarakan hasil belajar jalur pendidikan formal dan nonformal.
Dalam pelaksanaannya, TKA dibagi menjadi 2 Gelombang: Gelombang 1 dilaksanakan pada hari Senin-Selasa, dan Gelombang 2 digelar pada hari Rabu dan Kamis. Gelombang 1 hari pertama untuk Mata Pelajaran Wajib. Sementara Gelombang 1 hari kedua untuk Mata Pelajaran Pilihan. Gelombang 2 pun demikian.
Setiap hari di tiap gelombang sekolah bisa menyelenggarakan 2-3 sesi ujian. Masing-masing sesi berlangsung selama 2-2,5 jam. Banyaknya sesi tergantung pada jumlah siswa di sekolah tersebut. Dengan jumlah 231 peserta didik (Putra dan Putri) di kelas XII, SMA FG menyelenggarakan 2 Sesi TKA setiap harinya.
Beberapa siswa membagikan komentarnya mengenai pelaksanaan TKA tahun 2025 ini. Waktu persiapan yang tak banyak (Agustus-Oktober) menjadi kendala yang cukup menguras energi.
“Pusing karena harus me-review materi dari kelas 10 dalam waktu yang cukup singkat. Itu yang bikin pusing,” kata Muhammad Farris Kamil kelas XII.3.
“Bener sih, (waktu persiapan) kurang cukup,” ucap siswa lainnya, Muhammad Fatan Khalisan kelas XII.2
Meskipun demikian, mereka tetap menerima apapun hasilnya nanti. Mereka telah belajar dengan sungguh dalam upaya mempersiapkan ujian tersebut. Mereka belajar mandiri, bersama teman, dan mengambil kelas tambahan di bimbingan belajar (bimbel).
Dalam pelaksanaan TKA tahun ini, ditemukan beberapa kendala teknis dari mulai soal yang error hingga sistem yang error di hari-hari awal. Bahkan, ada oknum peserta dari sekolah dari daerah lain yang didapati melakukan kecurangan dengan melakukan siaran langsung di media sosialnya. Dengan hal ini, beberapa siswa SMA FG berharap pelaksanaan TKA di masa mendatang bisa lebih baik. Lebih baik dari apa yang mereka alami tahun ini.
“Kan kalau kemarin tuh banyak laporan ada curang-curangnya gitu (di media sosial). Mungkin harusnya diperbaiki sistemnya keamanannya. Terus, kalau ada hal baru, ada ujian baru, ada kebijakan baru kaya gini (TKA) seharusnya gak dipaksa buat dilaksanakan secepatnya,” Farris menyarankan.
“Perbaiki dulu lah sistemnya. Ya, walaupun kita sudah gladi bersih, kayak percobaan yang sama (dengan teknis pelaksanaan), tapi kan sistem itu harus benar-benar bisa dipakai. Nggak ada error sama sekali. Soalnya kan ini bisa dibilang mempertaruhkan masa depan (kita),” harap Fatan.
Program ujian berstandar nasional memang bukan hal baru di Indonesia. Maka, seharusnya memang pemerintah sudah mengantisipasi kendala-kendala yang mungkin bisa ditemukan.
Indonesia mungkin bisa belajar dari beberapa negara lain yang telah melaksanakan program serupa. Singapura, misalnya, yang telah berpengalaman menyelenggarakan program serupa bernama Singapore National Examinations secara konsisten selama lebih dari lima dekade melalui kerja sama antara Kementerian Pendidikan (MOE), Singapore Examinations and Assessment Board (SEAB), serta Cambridge International.
Dengan pengalaman panjang yang Singapura miliki, Indonesia dapat belajar banyak hal, terutama tentang bagaimana menjaga standar ujian tetap tinggi, mengelola penilaian secara transparan dan terukur, serta meminimalkan inflasi nilai rapor melalui asesmen eksternal yang kredibel. Singapura juga menunjukkan bahwa keberhasilan ujian nasional tidak hanya terletak pada kualitas soalnya, tetapi juga pada sistem pendukungnya mulai dari persiapan guru, mekanisme penjaminan mutu, hingga teknologi penilaian yang memastikan proses koreksi berlangsung objektif dan efisien.
