Saat Gagasan Direalisasikan
Bekasi, SMA FG – Tanggal 16-20 Juni 2025 jadi pekan yang tak biasa di SMA FG. Tidak ada kegiatan belajar mengajar. Ruang-ruang kelas diubah menjadi ruang-ruang sidang. Para peserta didik menjadi pelaku utamanya. Mereka berdiri di depan kelas untuk mempresentasikan karyanya. Pekan ini adalah pekan Sidang Proyek.
SMA FG mempunyai program proyek bagi siswa kelas X dan kelas XI. Mereka diminta untuk menyusun proyek di awal tahun ajaran. Proyek yang dibuat pun dipilih menurut minat mereka masing-masing. Dalam prosesnya, mereka akan didampingin oleh Guru Pembimbing (GP). Program ini diakhiri dengan presentasi di tiap akhir semester.
Tujuan dari program ini yakni untuk meningkatkan kemandirian peserta didik. GP hadir sebagai teman diskusi saat perencanaan dan mengarahkan mereka pada proyek sesuai dengan potensi yang dimilliki. Saat semangat peserta didik turun, GP berperan untuk sebagai motivator agar mereka tetap semangat menyelesaikan proyeknya.
Proyek yang dikerjakan oleh kelas X dan kelas XI berbeda. Kelas X terbagi menjadi dua proyek kecil. Di semester pertama, mereka tidak fokus terhadap proyek. Mereka fokus pada jurusan yang akan mereka ambil di kelas XI. Di semester kedua, mereka baru mulai melakukan perencanaan terkait proyek yang akan dilakukan di kelas XI.
“Kelas 10 itu, semester pertama proyeknya terkait jurusan. Dia mau jurusan apa (di kelas XI nanti). Baru di semester dua mereka mulai merencanakan proyek,” kata pak Pangestu Wibisono, salah satu guru senior di SMA FG.
“Pelaksanaan proyeknya baru di kelas 11,” imbuhnya.
Program ini benar-benar memberi keluasan kepada para peserta didik. Mereka diberikan kesempatan untuk menyalurkan gagasan terhadap proyek yang diminatinya. Beberapa peserta didik memilih menulis karya ilmiah. Yang lainnya, memutuskan untuk mempelajari skill-skill baru sebelum berumur 17 tahun, berjualan, membuat solar panel, hingga membuat produk baru.
Muhammad Insan Syamil, misalnya. Peserta didik kelas X-3 ini berencana untuk membuat permen yang berbahan dasar jeruk dan daun mint. Gagasan tersebut muncul dari concern-nya kepada orang-orang yang mempunyai gangguan pada tenggorokan. Dia berharap permennya bisa sedikit melegakan orang-orang yang mempunyai gejala tersebut.
Ada juga Hasan Abdul Ghani Oktowijaya (XI-1). Dia menulis karya ilmiah dengan judul “Efek Bentuk Lambung Kapal Terhadap Hidrodinamika Suatu Kapal”. Dalam prosesnya, ia mesti mendalami Fisika (terkair Hidrodinamika, dsb.) dan mempelajari DELFTship yang merupakan perangkat lunak untuk merancang kapal yang memungkinkan perancangan yang cepat dan akurat.
Proyek-proyek yang direncanakan dan dilakukan dipresentasikan dengan penuh semangat. Mereka terlihat antusias dengan program ini. Semangat tersebut membuat para orang tua (wali murid) dan guru-guru yang menyaksikannya merasa bangga.
“Saya suka (program proyek ini),” jawab Hasan saat ditanya komentarnya tentang program proyek SMA FG.
Hasan juga menyarankan teman-teman adik tingkatnya untuk membuat tantang pada proyek yang akan mereka lakukan.
“Sekolah telah memberi waktu kita (peserta didik) waktu setahun untuk menyelesaikan proyek. Jadi, kenapa kita tidak memilih proyek yang menantang? Lagipula, sekolah tidak memberi target untuk berhasil. Gagal pun tidak masalah,” sambungnya.
Benar. Keberhasilan menyelesaikan proyek adalah sebuah bonus. Pengalaman dalam prosesnyalah yang sangat penting. Semoga itu yang akan memberi pelajaran berharga bagi para peserta didik di masa depan. Mereka belajar membuat rencana, disiplin dalam melaksanakannya, belajar manajemen waktu, dsb.
